Sebuah cerita Presiden di Balikpapan

lucu juga waktu baca cerita ini di internet, dengan judul presiden juga manusia

“Presiden Juga Manusia”, meminjam istilah Endarta Sanjaya, penulis di salah satu kolom harian Kaltim Post edisi tanggal 19 Oktober 2006. Ceritanya, presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono harus menahan keinginan buang air kecil saat masih dalam perjalanan sepanjang jalan propinsi yang menghubungkan kota Balikpapan-Samarinda. Rombongan yang kala itu bertolak dari Samarinda akan kembali ke Balikpapan dan langsung terbang ke Jakarta melalui bandara Sepinggan Balikpapan harus melewati jalan propinsi yang juga adalah daerah hutan lindung Bukit Soeharto. Sepanjang jalan yang berliku, sejuk, teduh oleh hutan di kiri kanan memang berkelok, dan rata-rata siapapun akan berhenti barang sejenak untuk buang air sepanjang perjalanan selama 2 jam tersebut. Hanya saja amat di sayangkan tidak tersedia satupun toilet umum yang layak di sepanjang jalan. Rumah-rumah penduduk juga rata-rata terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung dan jarang yang memiliki kamar kecil yang memadai. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kewalaan dan sibuknya Paspampres hanya soal menyediakan kamar kecil untuk presiden yang kebelet pipis.

Jadi sepertinya pak presiden memang harus melihat bahwa seperti inilah wajah sarana publik di negeri tercinta. Meskipun kenyataan ini sudah terjadi sejak jauh jauh hari sebelum presiden sendiri lahir, dan masih akan berlangsung jauh jauh hari meski presidennya berganti-ganti.

Dimataku sendiri Pak Presiden (siapapun itu) hanya laksana tokoh dongeng di buku-buku. Seorang manusia yang perannya mendunia, yang selalu muncul di media massa setiap hari. Rasanya aneh melihat fakta bahwa orang yang bahkan bersinnya saja bisa mempengaruhi kestabilan bursa saham ternyata bisa juga berjalan di tempat yang sama yang biasa kulewati. Hanya saja tentu bedanya beliau bermobil dan aku naik bus antar kota. Rasanya aneh bahwa wajah yang kulihat di televisi ternyata memang ada dan berjalan di jalan besar di depan gang rumahku.

Bagiku kedatangan presiden sama anehnya dengan demo mahasiswa yang menuntut agar dapat bertemu langsung dengan Pak SBY hingga harus memblokade jalan didepan bandara. Aneh karena jumlah mereka yang hanya segelintir, dengan semangat mereka yang terlampau menggebu malah ‘merusak’ kesan kota yang tenang dan kondusif. Aneh karena meskipun demonstrasi sudah jadi hal biasa di kota besar, tapi di sini, di Balikpapan demo bukanlah hal yang umum apalagi wajar.

Demonstrasi segelintir mahasiswa pribumi di kota Balikpapan sendiri sama anehnya dengan para anjal dan pengemis yang tiba-tiba berlipat ganda jumlahnya sepanjang bulan Ramadhan. Mungkin di kota besar anjal dan pengemis adalah hal biasa, jadi bagian keseharian yang kadang menyulut simpati dan kadang menanmkan kesal di hati. Tapi disini, di kota Balikpapan yang tertata rapi ini, pengemis dan gelandangan tidak boleh berserakan keluar dari wilayah umum seperti emperan pasar tradisional ataupun penggiran mall. Warga yang cepat merasa terganggu akan kehilangan simpati pada ketidak teraturan yang berlebihan. Lapangan pekerjaan tidaklah sesulit di tanah Jawa, begitu kata semua orang, dan aku memang setuju. Sepanjang tidak ada keinginan hanya meminta, dan sepanjang tubuh masih mampu serta memiliki kemampuan, rasanya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan disini.

Sementara anjal dan pengemis sama anehnya dengan pengamen yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah-rumah warga. Dengan topi yang sengaja diturunkan hingga kedahi dan wajah ditundukkan sehingga tampang sebenarnya tersembunyi, mereka menyanyi bahkan kadang tanpa niat. Pengamen di rumah makan sudah sangat mengganggu apalagi yang sampai datang ke rumah, hanya jadi bahan penyebab sebal karena mereka sehat sentosa, para pemuda yang mestinya bekerja dengan keringat bukannya hanya sekedar menggerakkan bibir dan mengeluarkan suara sesukanya lalu menadah dalam diam. Disini, semua hal itu berlebihan, setidaknya hingga hari ini. Entahlah esok jika hal-hal yang dianggap tidak umum ini sudah makin menjadi ‘biasa’ dan wajar.

Mudah-mudahan saja pergerakan negeri ini tidak makin mundur, melainkan makin maju. Baik dalam segi sumber daya manusianya, maupun segi infrastrukturnya. Setidaknya jika suatu hari Pak Presiden melewati jalan negara yang berhutan lagi pasukannya tidak akan sibuk mencari kamar kecil yang layak.

sumber : http://qeong-ungu.9fx.biz/?p=64


3 thoughts on “Sebuah cerita Presiden di Balikpapan

  1. wah, iya bner ceritanya lucu juga..
    tapi ya mau bgmn, itulah kehidupan yang terjadi di “Lamin Etam”..
    padahal yg dilihat pak SBY baru sedikit dari yang ada..

    mau di link ya ?
    ga ap kok.. santai aja.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s