Grebegan sebuah Tradisi lebaran jogja

Kraton Ngayogjakarta Hadiningrat setiap tanggal 1 Sawal dalam Kalender Jawa mengelar tradisi Grebeg Syawal (Sawal), menandai hari kemengan setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh . Tahun ini Grebeg Syawal dilaksanakan pada hari ini, Sabtu, 13 Oktober 2007 atau dalam Kalender Jawa 1 Sawal 1940 Ehe bertepatan 1 Syawal 1428 Kalender Hijriyah.

 

Grebeg atau Garebeg adalah tradisi Kraton Ngayogjakarta Hadiningrat sebagai perwujudan Hajad Dalem atau sedekah Sultan kepada rakyatnya yang disimbolisasikan dengan Gunungan yang berisi sayuran diantara kacang panjang, cabe dan sebagainya. Selain Grebeg Syawal ini, Kraton Yogya juga menggelar Grebeg Maulud untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW dan Grebeg Besar pada saat Idul Adha.

Upacara tradisional ini telah berusia ratusan tahun ternyata masih mendapat sambutan luas masyarakat, terbukti ribuan warga memadati Pagelaran Kraton Yogya dan sepanjang rute menuju halaman Masjid Gede Kauman. Tak ketinggalan, puluhan wisatawan mancanegara dengan antusias menyaksikan jalannya upacara.

Prosesi Grebeg Syawal dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, diawali dengan kirab 8 bregodo (prajurit) Kraton Yogya dari Siti Hinggil menuju Alun-Alun Utara, di depan gerbang Pagelaran Kraton. Kedelapan bregodo itu yakni Wirobrojo, Daheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero dan Nyutra. Disusul Panglima prajurit atau Manggalayudha GBPH Yudhaningrat menempatkan diri ditengah-tengah barisan bregodo sebagai pemimpin upacara.

Selanjutnya sebuah Gunungan Jaler (Laki) diusung puluhan abdi dalem keluar dari kraton diiringi oleh Bregodo Bugis dan Surakarsa. Sesampainya di depan Pagelaran, disambut tembakan salvo oleh bregodo kraton yang sebelumnya telah berbaris dalam formasinya.

 

Iring-iringan Gunungan kemudian menuju halaman Masjid Gede Kauman di sebelah barat Alun-alun Utara Kraton Yogya. Ratusan pengunjung telah menanti untuk mengalap berkah dari Gunungan itu, usai ritual singkat di depan masjid, secara spontan warga ngerayah atau berebut isi gunungan.

Sebagian orang tua menganggap bila berhasil mendapat isi gunungan akan memberikan berkah tersendiri. Ada juga beberapa anak remaja yang ikut ngrayah namun mereka tampaknya sekedar larut dalam keramaian.


2 thoughts on “Grebegan sebuah Tradisi lebaran jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s